
“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri” (Amsal 3:5)
Awal tahun sering membawa semangat baru. Kita ingin memperbaiki hidup, mencoba hal baru, atau memperbaiki yang dulu belum selesai.
Tapi semangat untuk berubah kadang bikin bimbang juga, karena kita harus menentukan mau melangkah ke mana.
Setiap orang, cepat atau lambat, akan sampai pada titik dimana ia harus memilih. Apakah bertahan atau mulai melangkah? Apakah menunggu atau maju?
Pertanyaannya, bagaimana agar keputusan yang diambil adalah keputusan yang bijak dan tepat?
Apa yang Mendorong Kita Membuat Keputusan
Setiap keputusan lahir dari dorongan untuk berubah. Misalnya, tidak nyaman dengan keadaan, ingin mencapai sesuatu. Atau ingin menemukan damai. Terkadang, keputusan untuk berubah diambil akibat adanya tekanan. Tekanan dari lingkungan maupun secara emosi.
Kita ingin segera selesai, padahal tidak semua yang cepat itu benar.
Sinta misalnya, terburu-buru memulai hubungan baru setelah putus. Ia mengira itu tanda Tuhan menjawab doanya. Tapi beberapa bulan kemudian, ia menyadari bahwa bukan waktunya yang salah, melainkan hatinya yang belum siap.
Kita sering ingin bergerak, padahal Tuhan justru mengajak kita diam sejenak untuk mendengar.
Belajar Membuat Keputusan.
Kita sering menunda karena takut salah. Tapi yang jarang kita sadari adalah, tidak memutuskan pun sebenarnya sebuah keputusan. Ketika memilih diam pun, situasi yang akan mengarahkan kita pada sebuah keputusan.
Manusia butuh memutuskan sesuatu karena hidup itu dinamis. Tuhan memberi kita kebebasan memilih supaya kita belajar bertanggung jawab atas keputusan itu.
C.S Lewis seorang filsuf Kristen pernah mengatakan ”Setiap kali kamu membuat keputusan, kamu membentuk bagian kecil dari dirimu yang akan bertahan selamanya…”
Hal ini berarti setiap keputusan apapun yang kita ambil maka akan menentukan apa yang terjadi ke depan atas hidup kita.
Dasar di Balik Setiap Keputusan.

Sebelum mengambil keputusan, orang biasanya menimbang keputusan dari empat hal:
- Logika. Kita bisa menimbang untung dan rugi, resiko, dan konsekuensi dari setiap pilihan. Logika menuntun kita untuk berjalan penuh pertimbangan dan tidak terburu-buru.
- Perasaan. Perasaan juga membantu kita menilai apakah motivasi kita murni. Perasaan bisa menjadi alat deteksi hati kita. Apakah keputusan itu membuat kita damai atau tidak.
- Pengalaman. Ada istilah mengatakan ”Pengalaman adalah guru yang diam tapi berharga.” Dari pengalaman, kita belajar mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang sebaiknya dihindari.
- Nilai Iman. Nilai iman adalah dasar paling kokoh dalam setiap keputusan.
Karena logika bisa salah hitung, perasaan bisa berubah, pengalaman bisa terbatas tapi iman membawa kita melihat dari sudut pandang Tuhan. Apa yang Tuhan kehendaki atas keputusan kita.
Mazmur 119:105 mengatakan “Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Keputusan yang bijak bukan hanya yang baik bagi diri sendiri, tapi yang selaras dengan kehendak-Nya.
Hambatan dalam Mengambil Keputusan.
Banyak orang sulit memutuskan karena takut salah, takut gagal, atau takut kehilangan sesuatu. Ada juga yang terlalu banyak mempertimbangkan pendapat orang lain, sampai lupa mendengar suara Tuhan sendiri.
Padahal, Tuhan tidak menuntut kita tahu semua jawabannya. Ia hanya meminta kita untuk taat pada langkah pertama. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.” (Yesaya 55:8)
Kadang yang Tuhan inginkan bukan keputusan yang sempurna, tapi hati yang mau mendengar dan belajar taat pada tuntunan-Nya.
Langkah Bijak Membuat Keputusan.

Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa menolong kita membuat keputusan dengan bijak dan selaras dengan kehendak Tuhan:
- Tenangkan hati. Jangan putuskan apa pun saat emosi masih tidak stabil.
- Berdoa dan minta hikmat. Jangan cuma minta tanda, tapi mintalah hati yang peka mendengar tuntunan Tuhan.
- Periksa motivasi. Apakah ini untuk kemuliaan Tuhan atau pembenaran diri?
- Bicarakan dengan orang yang dewasa secara rohani (mentor rohani). Orang yang bijak jika mau menerima banyak nasehat.
- Berani menunggu. Tuhan sering bicara lewat waktu, bukan lewat desakan.
Keputusan yang bijak lahir dari hati yang tenang, pikiran yang jernih, dan roh yang peka akan suara Tuhan. Bukan dari tekanan, emosi, atau keinginan sesaat.
Kadang Tuhan tidak langsung memberi jawaban, tapi Ia mengajarkan kita berjalan dalam proses . Belajar mendengar, menimbang, dan menunggu waktu-Nya.
Tanda Keputusan Itu Benar.
Keputusan yang bijak tidak selalu membuat jalan hidup menjadi lancar, tapi selalu membawa damai sejahtera bagi hati yang taat.
Sebab pada akhirnya, ketaatan pada kehendak Tuhan selalu lebih baik daripada mengikuti keinginan kita sendiri.
Kolose 3:15 memberi nasehat untuk kita bahwa “Damai sejahtera Kristus hendaklah memerintah dalam hatimu.”
Kita bisa tahu keputusan itu benar bukan karena semuanya mudah, tapi karena hati kita tenang dan menuntun kita semakin dekat dengan Tuhan.
Penutup

Kehidupan adalah rangkaian keputusan, dan setiap keputusan adalah ujian iman.
Tuhan tidak hanya menuntun ke mana kita pergi, tetapi juga bagaimana kita melangkah.
Awal tahun ini, sebelum memutuskan sesuatu yang besar, berhentilah sejenak.
Berdoalah. Dengarkan. Karena keputusan yang bijak bukan lahir dari kecepatan berpikir, tapi dari ketenangan hati yang percaya.
Pertanyaan Diskusi.
- Menurut Anda bagaimana kita tahu bahwa keputusan yang diambil sesuai dengan kehendak Tuhan?
- Hal-hal apa saja yang menjadi pertimbangan sebelum Anda mengambil keputusan?
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.