Pengalaman buruk yang terjadi di masa lalu, kerap meninggalkan bekas dalam pikiran seseorang. Orang yang mengalaminya kerap merasa takut atau cemas saat teringat akan peristiwa tersebut.
Seperti yang dialami oleh rekan saya. Dia pernah gagal dalam menjalin hubungan. Akibatnya, dia mengalami ketakutan menjalin hubungan dengan orang lain. Ia merasa tidak tenang karena takut gagal lagi.
Banyak orang susah melepaskan diri dari trauma masa lalu. Namun, hidup harus move on. Jadi, apa yang harus dilakukan sehingga bisa bebas dari trauma?
Bagaimana mengatasi rasa trauma karena kegagalan menjalin hubungan dengan lawan jenis? Mari menyimak ulasan berikut.
Realitas Manusia
Pistanthrophobia adalah rasa takut berlebih untuk memercayai orang lain. Terutama dalam hubungan asmara. Seseorang akan mengalami kesulitan menjalin hubungan jika tidak disembuhkan. Bahkan ia dapat menutup diri karena ketakutan tersebut.
Aristoteles, seorang filsuf Yunani, menyatakan bahwa manusia terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh. Jiwa yang mengalami gangguan akan memengaruhi aspek tubuh.
Misalnya, seseorang tidak mau bergaul karena memiliki ketakutan dikecewakan orang lain. Ketakutan ini menimbulkan perasaan tidak percaya pada orang lain. Demikian juga dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis.
Pendekatan Terapi
Jika seseorang mengalami trauma, dapatkah ia sembuh? Manusia dapat mengupayakan kesembuhan dari rasa trauma tersebut. Salah satunya adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT).
Terapi ini menolong penderita untuk mengurai ketakutan tersebut. Serta meluruskan persepsi yang keliru dengan menunjukkan bukti.
Jika penderita membenci wanita karena telah gagal berkali-kali dalam percintaan, maka perlu meluruskan persepsinya tentang sosok wanita dengan bukti.
Misal, ibunya adalah seorang wanita yang menyayanginya. Pada masa awal pacaran, wanita yang dicintai menyayanginya. Ini salah satu bukti untuk meluruskan persepsi tentang wanita. Jika Anda ada tanggapan, silakan email kami
Kunci Kesembuhan
Allah adalah Pencipta tubuh, jiwa, dan roh. Disamping pendekatan terapi, maka perlu memohon pada Allah agar disembuhkan dari rasa trauma.
Yesus Kristus berkata, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” (Yohanes 8:36).
Walaupun Yesus Kristus menyampaikan hal itu dalam konteks dosa, tetapi perkataan ini dapat dihubungkan dengan sesuatu yang mengikat. Trauma adalah sebuah ikatan yang merugikan manusia.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan agar bebas dari trauma:
Berdoa Meminta pertolongan pada Allah agar dibebaskan dari rasa trauma dalam doa. Yesus Kristus berkata, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matitus 7:7). Ini adalah perintah Yesus Kristus untuk meminta pada-Nya. Allah memberikan ruang bagi manusia untuk menyampaikan keluhannya di dalam doa.
Mengisi pikiran dengan yang benar Pikiran adalah tempat pertempuran. Tetapi juga tempat menyimpan sesuatu yang baik atau buruk. Filipi 4:8 menyatakan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Mengisi pikiran dengan pikiran yang benar dan tepat. Artinya ini memerlukan kedisplinan untuk berpikir benar. Baca juga: Sukacita Luar Biasa: Mampu Menguasai Pikiran
Membaca Alkitab Mengonsumsi makanan bergizi memiliki dampak yang baik bagi tubuh. Demikian juga membaca Alkitab memiliki dampak yang besar bagi pikiran.
Ketiga langkah di atas perlu diterapkan secara konsisten. Hanya Allah yang dapat menolong jiwa manusia sembuh. Pendekatan terapi hanya alat untuk sembuh, bukan sumber kesembuhan.
Lakukanlah ketiga langkah tersebut untuk memperoleh kebebasan dari trauma.
Pertanyaan Diskusi:
Apa trauma yang pernah dialami?
Bagaimana perasaan Anda dengan trauma yang dialami?
Bagaimana upaya yang telah Anda lakukan untuk sembuh dari trauma?
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.