Setiap kita pasti memiliki tantangan dalam hidup. Tantangan demi tantangan kerap kali membuat kita merasa lemah. Baik secara jasmani maupun rohani.
Seperti apa yang saya alami, sebagai seorang penyandang disabilitas netra, dimana penglihatan saya semakin menurun hingga hanya tersisa 20%. Bukan hanya mata ini yang gelap untuk melihat segala sesuatu. Tetapi juga memandang masa depan yang nampak gelap ketika mencoba untuk menatapnya.
Sebagai manusia biasa, apakah saya harus menyerah dengan keadaan yang saya alami? Atau, apakah saya harus menyalahkan Tuhan dengan keadaan ini?
Dalam Kelemahan Manusia Kuasa Tuhan Dinyatakan
John Stott seorang Teolog menyatakan, ”Sebagai seseorang yang sangat sadar akan kelemahan saya sendiri, saya merasa bahwa ketika saya merasa lemah, saya tidak sendirian. Ketika saya menaruhnya pada Tuhan, Ia mengubah kelemahan saya menjadi kekuatan.”
Setiap orang memiliki kelemahan. Kelemahan seringkali menjadi penghambat bagi kemajuan seseorang dan menjadikan mereka kecewa. Kita perlu memandang dengan benar kelemahan dalam diri kita.
Rasul Paulus dipakai Tuhan secara luar biasa karena setengah Perjanjian Baru diisi oleh tulisan-tulisannya. Dalam pelayanannya, ia banyak mengalami penderitaan dan kesusahan.
Paulus menulis: ”Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2 Korintus 12:9-10).
Paulus bukan berarti seorang superhero atau super rasul yang tanpa kelemahan. Dia tetap manusia yang punya keterbatasan. Justru melalui peristiwa yang dialaminya, ia makin bersandar pada kuasa Tuhan.
Kelemahan membuat kita tidak memiliki daya yang mampu kita andalkan. Tetapi di situlah kita dapat belajar untuk mengandalkan Tuhan dan kuasa-Nya akan dinyatakan secara utuh di dalam kehidupan kita.
Tokoh Alkitab yang Punya Keterbatasan
Selain Rasul Paulus, dalam Alkitab kita bisa melihat beberapa kisah orang biasa yang memiliki banyak kelemahan namun hidupnya dipakai Tuhan secara luar biasa. Musa sebelum menjadi pemimpin besar Israel, ia adalah orang yang tidak percaya diri dan merasa tidak layak.
Ketika Allah memanggil Musa untuk melayani, ia menjawab, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah” (Keluaran 4:10).
Perkataan itu menandakan bahwa Musa mungkin mengalami kesulitan dalam berbicara. Mungkin ia gagap.
Tuhan berkata kepadanya, “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni Tuhan?” Kelemahan, ketidakmampuan, dan kecacatan kita sekalipun dapat digunakan Allah bagi kemuliaan-Nya.
Bukan dengan membuang kelemahan kita, tetapi dengan menganugerahi kekuatan dan memakai keterbatasan kita demi kebaikan. Sehingga ketika kita mampu, kita akan tetap merendahkan hati untuk dapat meninggikan nama Tuhan.
Menjadi Alat Kemuliaan Tuhan
Sangatlah mudah menyerah saja ketika keadaan menjadi sulit. Begitulah yang saya alami.
Dalam keadaan sebagai seorang tunanetra seperti yang sudah diceritakan sedikit di atas, terkadang saya berpikir apakah saya mampu, Tuhan?
Sering kali Tuhan berbicara melalui saat teduh saya: “Jika kamu hari ini bisa melayani dalam bidang musik. Menjadi seorang pemimpin di gereja dan berkhotbah di hadapan orang banyak dengan keadaan matamu yang normal, bukankah itu hal yang biasa dimana banyak orang juga bisa melakukannya? Tetapi jika hari ini kamu mampu melakukan semuanya itu dengan keadaan matamu yang lemah dan terbatas, bukankah hal itu salah satu pekerjaan Tuhan yang mengagumkan?”
Saya kembali diingatkan Tuhan bahwa hingga saat ini bisa melakukan banyak hal. Mulai dari bekerja, melayani Tuhan, dan berkuliah di Sekolah Tinggi Teologi Internasional Harvest. Semua itu demi tujuan untuk kemuliaan Tuhan.
Kesimpulan
Meskipun kita memiliki banyak kelemahan, Tuhan tidak bisa dibatasi oleh keterbatasan kita. Kita adalah bejana-bejana tanah liat dan Tuhan adalah Pengerjanya. Saat kita izinkan Dia bekerja melalui kelemahan kita, Dia akan membentuk kita menjadi bejana yang indah.
Firman Tuhan mengatakan bahwa: ”Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Oleh sebab itu, janganlah kita dikalahkan oleh kelemahan.
Percayakan semua kelemahan itu kepada Tuhan dan serahkan diri kita untuk dipakai oleh-Nya. Percayalah, kita akan mendapat kekuatan yang luar biasa.
Ada kuasa Tuhan dalam kelemahan kita. Tuhan yang memperlengkapi, menguatkan, dan yang selalu menyertai kita. Untuk mewartakan kabar baik kepada banyak orang di sekitar kita.
Pertanyaan Diskusi
Menurut Anda, kelemahan apa dalam diri Anda yang mampu Tuhan pakai untuk menjadi kekuatan di dalam-Nya?
Mengapa sering kali Tuhan seolah-olah membiarkan kelemahan dan keterbatasan itu tetap terjadi? Apa saja alasannya?
Oleh: Eka Sapta G.S Sethiobudi
Kategori: Lemah dan Terbatas, Namun Tetap Dipakai Tuhan
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.