
Perbedaan doktrin telah menghasilkan banyak aliran dan organisasi gereja di dunia. Di Indonesia selain Gereja Katolik, ada 95 Sinode Gereja Protestan yang menjadi anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Juga ada sekitar 70 Gereja Pentakosta yang terdaftar di Persekutuan Gereja-Gereja Pantekosta Indonesia. Kita juga mengenal Gereja Ortodox dan organiasi gereja lain yang tidak terdaftar dalam persekutuan gereja manapun.
Ada banyak faktor yang menyebabkan munculnya denominasi gereja yang begitu banyak. Salah satunya adalah perbedaan doktrin. Padahal doktrin merupakan pengajaran tentang Kekeristenan yang penting untuk dipelajari. Memahami doktrin gereja berarti memahami apa yang kita imani.
Perbedaan Doktrin di Jemaat Mula-mula
Perbedaan doktrin sudah muncul sejak gereja mula-mula. Salah satunya adalah perbedaan pengajaran antara Paulus dan Barnabas dengan beberapa orang Kristen Yahudi tentang sunat. Beberapa orang Kristen Yahudi beranggapan bahwa orang Kristen non Yahudi juga harus disunat. Sementara Paulus berpendapat bahwa sunat tidak lagi perlu. Sidang di Yerusalem kemudian memutuskan sunat tidak wajib bagi orang non Yahudi.

Namun pengajaran tentang kewajiban sunat masih tersebar di kalangan orang-orang non Yahudi. Karena itulah Paulus merasa perlu untuk membahas hal tersebut dalam suratnya pada jemaat di Roma dan surat-suratnya yang lain.
Tuhan Yesus juga menghadapi perbedaan doktrin di antara golongan-golongan Yahudi masa itu. Orang Saduki misalnya, menganggap tidak ada kebangkitan orang mati. Selain Saduki, ada mazhab Farisi, mazhab Saduki dan mazhab Eseni yang memiliki perbedaan ajaran dalam komunitas mereka.
Yesus tidak menghindari perbedaan doktrin yang ada di antara orang-orang Yahudi. Yesus justru memberikan pengajaran yang lebih mengarah pada esensi sebagai bentuk pengajaran yang benar tentang Hukum Taurat.
Dampak Perbedaan Doktrin Terhadap Jemaat
Sebagian orang menganggap perbedaan doktrin sebagai hal yang memecah belah gereja. Sejarah gereja memang menunjukkan adanya perpecahan bahkan pertikaian karena perbedaan doktrin.
Meski saat ini perdebatan doktrin tidak sesengit dulu, namun beberapa orang Kristen masih memandang rendah orang Kristen dari aliran berbeda. Akibatnya, sebagian orang dengan alasan mengutamakan kesatuan orang Kristen, menjadi tidak tertarik untuk mempelajari doktrin gereja.
Menyikapi Perbedaan Doktrin Secara Alkitabiah
Perbedaan doktrin telah menjadi masalah sejak dahulu. Namun hal tersebut bukanlah alasan untuk tidak mempelajari doktrin gereja. Surat-surat para rasul dalam Perjanjian Baru tidak hanya berisi saran praktis atau kata-kata penguatan, tetapi juga sangat kaya dengan pengajaran doktrinal. Dalam 1 Timotius 2:3, Paulus mengatakan bahwa Allah menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.
Petrus, dalam 2 Petrus 1:5 menyatakan bahwa orang Kristen harus berusaha menambah pengetahuannya. Pengetahuan tentang doktrin gereja sangat penting karena doktrin memberikan pemahaman yang benar bagi orang percaya.
Pada dasarnya, perbedaan doktrin muncul sebagai dampak upaya-upaya penafsiran Alkitab untuk mendapatkan pemahaman yang benar. Namun adanya perbedaan metode penafsiran, pendekatan, sudut pandang dan kemampuan dari para tokoh gereja maka muncul doktrin yang berbeda-beda.
Menyikapi Perbedaan Doktrin dengan Kasih
Dengan demikian, perbedaan doktrin adalah hal lumrah dan sulit dihindari. Pembahasan dan perbandingan doktrin-dokrin yang berbeda justru akan memberikan orang Kristen pemahaman mendalam tentang suatu pengajaran.

Masalah timbul karena seringkali orang-orang Kristen memandang rendah aliran lain dengan doktrin yang berbeda dengannya.
Saat membahas doktrin seringkali orang-orang Kristen terjerumus pada debat yang saling melukai. Hal inilah yang keliru. Terkait doktrin-doktrin mendasar seperti Ketuhanan Kristus, tentu kita harus bersikap tegas. Namun untuk doktrin-doktrin lain kita semestinya bersikap lebih lembut.
Dalam 2 Timotius 4:2, Paulus menasihatkan Timotius untuk menyatakan dan menegur apa yang salah termasuk pengajaran yang salah dengan kesabaran. Paulus juga mendorong jemaat untuk mengutamakan kasih dalam hidup bersama.
Kita tentu menganggap doktrin yang kita percaya yang benar. Namun kita juga harus dengan rendah hati mengakui bahwa pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna sebagaimana disampaikan Paulus (1 Kor. 13:9).
Karena itu dalam menyikapi perbedaan doktrin dalam gereja, orang percaya harus mengutamakan kasih, kesabaran dan kerendahan hati. Doktrin adalah hal yang penting. Sebagai orang Kristen kita tidak perlu ragu membahas doktrin gereja.
Kesimpulan
Perbedaan yang ada harus disikapi dengan rendah hati dan penuh kasih. Kita adalah bagian dari satu Gereja Am yang adalah satu tubuh dengan satu roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan dan satu Allah meskipun berbeda.
Dengan mengutamakan kasih dan persatuan sebagai prinsip, pembahasan doktrin akan mendekatkan kita pada ajaran Kristus yang sejati.
Pertanyaan Diskusi- Doktrin apa yang menurut Anda yang sering diperdebatkan? Bagaimana seharusnya orang Kristen menyikapinya?
- Sejauh mana pengetahuan tentang ajaran Kristen membantu Anda mengenal Tuhan secara pribadi?
Oleh: David Lambok M Manullang
Kategori: Sikap Terhadap Perbedaan Doktrin dalam Gereja
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.