Umumnya anak-anak memiliki cita-cita yang ingin digapainya saat dewasa. Beberapa memiliki cita-cita menjadi dokter, polisi, atau guru. Pokoknya, jadi orang sukses. Orang hebat yang bisa menolong orang banyak.
Itulah sederhananya seorang anak memutuskan cita-cita mereka. Namun sayangnya, hidup tidak semudah membalikan telapak tangan.
Hidup dipenuhi berbagai tragedi. Seperti, ada anak yang terlahir disabilitas. Tidak bisa mendengar atau melihat. Ada pula orang yang mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia harus kehilangan anggota tubuhnya.
Pertanyaannya bagaimana mereka ini dapat meraih cita-citanya dalam kondisi lemah dan terbatas? Atau bagaimana mereka dapat bangkit dari keterpurukan?
Disabilitas Tetap Berkarya
Menariknya, ada seorang tunanetra yang menjadi penyair dan komposer. Seorang tuli dan buta menjadi penulis dan dosen. Atau seorang motivator meski tidak memiliki tangan dan kaki.
Ya, itulah Fanny Crosby, Helen Keller, dan Nick Vujicic. Kita mengenal mereka sebagai para penyandang disabilitas yang dipakai Tuhan. Untuk menjadi berkat dalam kelemahan dan keterbatasan.
Masalahnya, kebanyakan orang beranggapan bahwa mereka bukan Fanny Crosby, Helen Keller, atau Nick Vujicic, yang memang hebat dengan support system yang ada.
“Sedangkan saya? Yah, memang sudah nasibnya begini. Bagaimana saya bisa bangkit? Bagaimana hidup saya bisa dipakai Tuhan dengan kondisi lemah, kecil, miskin, terpinggirkan, atau disabilitas? Semuanya sudah hancur. Tidak ada harapan lagi. Tidak mungkin cita-cita saya dapat diraih.”
Kunci Bangkit dari Kelemahan
Tujuan artikel ini ditulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan demikian berdasarkan Firman Tuhan. Seperti yang telah dikatakan Rasul Paulus bahwa ia lebih suka dan rela dalam kelemahan oleh Kristus, karena jika ia lemah, maka ia kuat (2 Korintus 12:10).
Berikut ini langkah-langkah bangkit dan merangkul kelemahan dan keterbatasan sebagai alat untuk dipakai Tuhan:
Akui dan datang pada Tuhan
Setiap kita pastilah memiliki kelemahan dan keterbatasan. Namun, tidak semua mau menerima kondisinya.
Mayoritas memilih untuk menyangkal dan menutupi kelemahan atau keterbatasannya. Meratapi nasib, stres, dan berujung pada tindakan membenci diri sendiri. Kondisi ini terjadi bila kita tidak mau mengakui kelemahan dan keterbatasan yang dimiliki
Belajar dari Tokoh Alkitab
Belajar dari berbagai tokoh di Alkitab. Musa yang tidak pandai berbicara. Elia yang merasa sendirian. Rasul Paulus dengan duri dalam dagingnya.
Berani mengakui kelemahan dan keterbatasan mereka. Sikap inilah yang kemudian mengantar mereka datang kepada Tuhan.
Dalam kelemahan dan keterbatasan, para tokoh ini menyadari bahwa bila mereka ingin memeroleh pemulihan, maka harus berani menampakan diri dan mengakui kelemahan mereka. Dan mereka membutuhkan Tuhan.
Temukan kebenaran-Nya
Setelah kita mengakui kelemahan dan keterbatasan kita dan kemudian datang kepada Tuhan. Maka langkah selanjutnya adalah menemukan kebenaran-Nya (Mat. 6:33).
Paulus mengerti bahwa dalam kelemahannya, ia harus datang kepada Tuhan. Serta menemukan kehendak Tuhan atas kelemahannya. “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ’Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna’. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (2 Korintus 12:9).
Kebenaran Tuhan atas kelemahan adalah jelas. Yaitu agar melalui kelemahan kita, kuasa Tuhan dinyatakan.
Responi panggilan-Nya
Langkah terakhir agar kelemahan dan keterbatasan dapat menjadi kesempatan dipakai Tuhan adalah meresponi panggilan-Nya.
Saya adalah seorang penyandang disabilitas netra. Saya mengalami kehilangan penglihatan secara bertahap sejak usia enam tahun. Ketika saya memasuki masa remaja, saya dengan jelas menangkap panggilan Tuhan bagi hidup saya. Firman Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus? Dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” (Yesaya 6:8). Tentu, saya sadar bahwa saya lemah dan terbatas dalam penglihatan.
Dokter menyatakan bahwa penglihatan saya sisa 5%. Namun saya tidak mau menjadikan kondisi ini penghalang untuk meresponi panggilan-Nya. Sebab cita-cita saya ialah melayani Dia. Karena itu, saya tidak ragu untuk meresponi panggilan-Nya.
Pada tahun 2021, saya mendaftar dan diterima sebagai mahasiswa sarjana Teologi di STTB The Way, Jakarta. Saya pun semakin diperlengkapi untuk menjadi pelayan-Nya. Puji Tuhan, saat ini saya diberi kesempatan melayani sebagai guru sekolah minggu di gereja lokal. Menjadi mentor, sekaligus guru Teknologi Aksesibilitas di Yayasan Kristiani, yang berfokus pada layanan bagi sahabat disabilitas.
Kesimpulan
Setiap orang pasti memiliki kelemahan atau keterbatasan. Namun, semua itu tidak menjadi penghalang agar menggenapi panggilan Tuhan.
Asal kita mau mengakui dan datang kepada Tuhan, menemukan kebenaran-Nya, serta meresponi panggilan-Nya. Niscaya kita yang lemah dan terbatas, tetap bisa dipakai Tuhan. Dengan demikian, hidup kita akan menjadi berkat. Bukan karena kuat dan gagah kita, namun oleh anugerah-Nya.
Pertanyaan Diskusi
Menurut Anda, bagaimana Tuhan bisa memakai kita yang lemah dan terbatas
Apakah kehendak Tuhan atas kelemahan dan keterbatasan kita? Jelaskan.
Menurut Anda, mengapa Tuhan mengijinkan kelemahan dan keterbatasan dalam hidup kita?
Oleh: Gressia Carolina
Kategori: Lemah dan Terbatas, Namun Tetap Dipakai Tuhan
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.