“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” (Mazmur 127:1).
Sebuah bangunan yang kokoh karena memiliki pondasi yang kuat. Pernikahan pun memerlukan dasar yang kokoh untuk bertahan menghadapi guncangan hidup. Tanpa pondasi itu, hubungan suami istri mudah retak di tengah tekanan, godaan, dan perbedaan.
Apa rahasia yang membuat pernikahan tetap kokoh meski badai, godaan, dan perbedaan tak henti-hentinya menguji?
Pondasi Pernikahan Berdasarkan Alkitab?
Alkitab menegaskan bahwa pondasi sejati tidak dibangun atas usaha manusia semata. Seperti yang Yesus ajarkan, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu” (Matius 7:24).
Pondasi pernikahan yang Alkitabiah berarti menanamkan hubungan suami istri pada prinsip-prinsip firman Tuhan.
Setiap keputusan, sikap, dan tindakan dalam rumahtangga harus didasarkan pada kasih, kesetiaan, dan ketaatan kepada kehendak Allah. Pengkhotbah 4:12 mengatakan “Tali tiga lembar tidak mudah diputuskan.” Dengan begitu, pernikahan tidak hanya kuat secara emosional, tetapi juga diberkati dan kokoh secara rohani.
Empat Pilar untuk Pondasi Pernikahan yang Kuat
Untuk membangun pondasi yang kokoh, pernikahan perlu ditopang oleh empat pilar utama. Yaitu: komitmen, komunikasi, keterbukaan, dan saling menerima. Keempat pilar ini bukan sekadar wawasan manusia, tetapi kebenaran yang berakar kuat dalam firman Tuhan yang kekal.
1. Komitmen
Pernikahan bukan kontrak, melainkan perjanjian kudus di hadapan Tuhan. Kejadian 2:24 menyatakan bahwa suami dan istri menjadi “satu daging,” dan Matius 19:6 menambahkan, “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
Komitmen berarti tetap setia dalam suka maupun duka. Komitmen sejati perlu bukti dan bukan hanya sekedar kata-kata. Misal, saat situasi ekonomi sulit, suami isteri diharapkan saling menopang tidak menyalahkan atau meninggalkan.
2. Komunikasi
Komunikasi yang sehat adalah jembatan penghubung dua hati. Tanpa komunikasi, kesalahpahaman dan jarak emosional akan muncul.
Dalam Yakobus 1:19, ”Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah.” Kesalahpahaman bisa terjadi tanpa adanya komunikasi. Tapi komunikasi juga bisa meredakan kesalahpahaman.
Semua ini sangat berkaitan dengan bagaimana pasangan saling berbicara dan mendengarkan satu sama lain.
3. Keterbukaan
Keterbukaan berarti tidak ada rahasia yang menghancurkan kepercayaan. Itu termasuk keterbukaan dalam emosi, keuangan, dan pergumulan pribadi. “Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya” (Kolose 3:9).
Suami dan istri yang hidup di dalam Kristus dipanggil untuk membangun hubungan yang jujur dan transparan. Hal ini berarti tidak menyimpan rahasia yang dapat merusak.
Ketika pasangan memilih untuk saling membuka diri, mereka sedang menanam kepercayaan yang kuat. Kepercayaan inilah yang menciptakan rumah tangga yang aman, sehat, dan diberkati Tuhan.
4. Saling Menerima
Setiap pasangan datang dari latar belakang dan kepribadian yang berbeda. Kolose 3:13 mengingatkan kita, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain . . .”
Saling menerima berarti mencintai pasangan apa adanya. Perbedaan seharusnya bukan menimbulkan konflik tetapi menjadi jembatan untuk saling melengkapi.
Ketika suami dan istri memilih untuk menerima dan menghargai perbedaan itu, kasih mereka akan semakin dalam dan hubungan mereka semakin memuliakan Tuhan.
Menang Menghadapi Badai Pernikahan
Setiap pasangan pasti menghadapi badai pernikahan. Pasangan yang berakar kuat dalam Tuhan akan tetap teguh meski diterpa guncangan. Kemenangan datang bukan dengan menghindari badai, tetapi dengan berdiri kokoh di tengahnya.
Seperti janji Tuhan dalam Yesaya 41:10, Dia akan meneguhkan, menolong, dan memegang kita dengan tangan kanan-Nya yang membawa kemenangan. Dalam badai pernikahan, doa bersama menguatkan hubungan spiritual pasangan.
Selain itu, membangun mezbah keluarga mampu mempererat hubungan suami istri. Menumbuhkan iman bersama melalui dan menguatkan keteguhan hati menghadapi setiap badai kehidupan.
Kesimpulan
Pernikahan yang bertahan melewati badai dibangun di atas pondasi firman Tuhan dan ketaatan kepada-Nya.
Pertanyaan Diskusi.
Apakah pondasi pernikahan saya saat ini sudah benar-benar berakar pada Kristus?
Pilar mana yang perlu saya perkuat agar pernikahan kami semakin kokoh di hadapan Tuhan?
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.