Semua orang menikah dengan harapan bahagia. Tetapi mengapa ada pernikahan yang mulai pudar seiring berjalannya waktu?
Hal ini terjadi karena pernikahan bukan hanya soal cinta yang menggebu di awal, melainkan anugerah sekaligus tantangan yang harus dirawat setiap hari.
Dalam pernikahan Kristen, kebahagiaan bertumpu pada kasih, pengertian, kesatuan hati dan pengenalan pada Pribadi Kristus.
Tiga prinsip berikut menolong pasangan menjaga kebahagiaan dan kekuatan pernikahan, baik secara emosional maupun rohani.
1. Menanggalkan Ego
Banyak pertengkaran bermula dari hal kecil yang membesar karena keduanya ingin menang. Ego membuat kita sulit mendengar, sulit mengalah, dan akhirnya sulit mengasihi.
“Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama . . .” (Filipi 2:3)
Dengan begitu, pernikahan bukan soal siapa benar, siapa salah. Menikah berarti belajar merendahkan hati, mengakui kesalahan, dan mengutamakan pasangan.
2. Memahami Bahasa Kasih
Banyak pasangan saling mencintai, tetapi tidak merasa dicintai. Alasannya: setiap orang punya bahasa kasih berbeda. Tanpa memahami bahasa kasih, kita bisa salah paham dan merasa diabaikan.
Ini adalah lima bahasa kasih menurut Dr. Gary Chapman:
Kata-kata afirmasi: Pasangan dengan bahasa kasih ini akan merasa bahagia melalui pujian kecil atau ucapan yang menyejukan. Seperti “Makasih ya sayang,” atau “Aku bangga sama kamu.” Kata-kata sederhana tapi bikin hati hangat.
Waktu berkualitas: Pasangan dengan bahasa kasih ini, sangat membutuhkan kehadiran. Mereka akan sangat bahagia jika pasangannya memberikan waktu walau hanya sekedar ngobrol atau mendengarkan ceritanya tanpa ada ganguan.
Pemberian hadiah: Buat pasangan yang memiliki bahasa kasih pemberian, hadiah kecil justru paling berarti. Hanya memberi makanan favorit atau kasih sesuatu yang sederhana akan sangat berkesan dan berarti.
Tindakan melayani: Buat pasangan yang memiliki bahasa kasih ini, cinta itu terlihat dari aksi. Misalnya membantu pasangan mengerjakan pekerjaan rumah. Atau ketika pasangan sedang lelah mengambilkan air putih atau membuatkan secangkir kopi merupakan tindakan yang menyejukan.
Sentuhan fisik: Pasangan yang memiliki bahasa kasih sentuhan, pelukan, genggaman tangan, atau usapan lembut. Sudah cukup membuat mereka merasa aman dan dicintai.
Masalah muncul ketika suami istri tidak mengenali bahasa kasih pasangannya. Karena itu, setiap pasangan perlu belajar memahami dan mengekspresikan kasih dengan cara yang paling dibutuhkan pasangannya.
3. Menjaga Kesatuan Hati
Kesatuan hati berarti berjalan searah, bukan sekadar tinggal satu atap. Kesibukan, anak, dan tekanan hidup bisa mengikis keintiman bila tidak dijaga.
Oleh sebab itu, kesatuan dibangun lewat doa bersama, ibadah keluarga, percakapan jujur (deep talk), waktu berdua.
Tuhan Yesus dalam Matius 19:6 berkata “Demikianlah mereka bukan lagi dua . . .”
Kesatuan hati adalah kunci pernikahan yang kokoh. Itu dijaga lewat doa, ibadah, dan waktu bersama. Kasih karunia Tuhanlah yang memampukan suami-istri tetap satu.
Rahasia Kekuatan Pernikahan Ada pada Kristus
Pernikahan bahagia bukan berarti tanpa masalah. Bahagia berarti terus menyiram cinta dengan kasih, doa, dan dasar yang kokoh. Yaitu mengenal Pribadi Yesus Kristus. Mengapa hal ini penting?
Tiga hal ini menjadi dasar bahwa mengenal Yesus Kristus adalah hal terpenting dalam pernikahan:
Kristus adalah sumber kasih sejati. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:19). Tanpa kasih Kristus, manusia cenderung mengasihi dengan syarat. Kasih Kristus memampukan suami-istri mengasihi tanpa pamrih.
Kristus adalah fondasi yang tidak tergoyahkan. “Rumah yang dibangun di atas batu tidak roboh meski badai datang” (Matius 7:24–25). Demikian juga pernikahan yang bertumpu pada Kristus akan bertahan menghadapi krisis.
Kristus adalah teladan pengorbanan. “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Efesus 5:25). Pernikahan dipanggil mencerminkan kasih Kristus yang rela berkorban. Bukan sekadar komitmen sementara.
Kesimpulan
Pernikahan adalah anugerah yang penuh tantangan. Pasangan pasti mengalami perbedaan dan masa sulit. Tetapi kebahagiaan bukan sekadar api cinta yang terus membara.
Kebahagiaan lahir ketika dua pribadi mau bertumbuh bersama. Saling belajar dan merendahkan hati di hadapan Kristus.
Pertanyaan untuk Bahan diskusi
Menurut saudara, apa yang membuat pernikahan bisa tetap hangat meski banyak tantangan?
Apa satu langkah sederhana yang ingin saudah coba lakukan dengan pasangan setelah membaca penjelasan di atas?
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.