
Seorang wanita pernah bercerita, setiap malam ia berdoa agar Tuhan mengabulkan doa yang sudah lama dia gumulkan. Ia tidak meminta sesuatu yang besar. Tapi selama bertahun-tahun ia berdoa, dan Tuhan tidak pernah mengabulkannya.
Ia mengatakan “Kalau Tuhan benar ada, kenapa rasanya Dia tidak pernah mendengar doa saya?”
Pernahkah Anda merasa seperti itu? Berdoa, tapi seperti berbicara sendiri. Percaya, tapi hati tetap gelisah? Datang kepada Tuhan, tapi merasa sendirian?
Perasaan Ditinggalkan
Banyak orang berpikir, menjadi orang percaya berarti selalu merasa dekat dengan Tuhan. Juga, akan selalu menerima jawaban atas setiap doa. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.
Ada masa ketika iman terasa kuat, tetapi ada juga masa ketika hati dipenuhi pertanyaan. Saat masalah datang dan doa seolah tidak mendapat jawaban, kita mulai bertanya: Apakah Tuhan benar mendengar? Apakah Dia peduli?
Situasi Murid-Murid Saat Ditinggal Yesus

Bayangkan posisi murid-murid saat Yesus naik ke surga. Selama ini mereka berjalan bersama-Nya. Melihat mukjizat. Mendengar suara-Nya secara langsung. Mereka merasa yakin dan tenang karena Yesus hadir secara fisik di depan mata mereka.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Dia tiba-tiba pergi.
Tidak heran kalau ada kebingungan, bahkan mungkin ketakutan. “Apa yang harus kami lakukan sekarang? Bagaimana kami melanjutkan hidup tanpa Dia?”
Situasi itu tidak jauh berbeda dengan kita hari ini. Kita tidak melihat Tuhan secara langsung. Kita tidak mendengar suara-Nya secara fisik. Dan dalam banyak momen, kita merasa seperti berjalan sendirian.
Ada hari-hari dimana iman terasa kuat. Tapi ada juga hari dimana semuanya terasa kabur.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus terlintas dalam pikiran kita, terutama saat kita mengalami persoalan. Tidak jarang juga akhirnya banyak orang mulai meninggalkan Tuhan.
Pergulatan Iman

Seorang psikolog, Kenneth Pargament, menyebut kondisi ini sebagai spiritual struggle. Yaitu di saat seseorang bergumul dalam imannya. Kondisi ini muncul ketika Tuhan terasa jauh, doa seolah tidak didengar, dan hati dipenuhi pertanyaan serta keraguan.
Ia juga menekankan bahwa pergumulan ini bukan tanda kegagalan iman. Tapi bisa menjadi bagian dari proses pendewasaan spiritual. Dalam kajian Psychology of Religion, Pargament menjelaskan bahwa iman bukan sesuatu yang statis. Iman berkembang, dan sering kali justru dibentuk melalui krisis.
Dari penjelasan di atas, sering kali manusia mengukur kehadiran Tuhan berdasarkan apa yang dirasakan. Saat hidup berjalan baik, doa dijawab, dan hati tenang maka kita merasa Tuhan begitu dekat. Sebaliknya, ketika masalah datang bertubi-tubi dan doa seolah tidak mendapat jawaban, kita mulai merasa Tuhan menjauh.
Padahal, perasaan tidak selalu menggambarkan kenyataan. Tidak semua yang tidak terlihat berarti tidak ada. Tuhan tetap bekerja meski kita belum melihat atau memahami caranya.
Cara-Nya Hadir Berubah
Momen kenaikan Yesus bukan berarti Ia meninggalkan umat-Nya tanpa arah. Justru di situlah sebuah perubahan besar terjadi. Kehadiran Tuhan tidak lagi terbatas secara fisik, tapi menjadi lebih dekat yakni melalui Roh Kudus.
Sebelum naik ke surga, Ia berkata pada murid-murid-Nya bahwa Ia tidak akan meninggalkan mereka sendirian. Ia akan mengirimkan Penolong yang akan menyertai mereka.
“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yohanes 14:16).
Sekalipun Yesus tidak lagi hadir secara fisik, para murid tetap mengalami kehadiran-Nya. Jadi, Tuhan tidak pernah berhenti hadir hanya karena kita tidak dapat melihat-Nya secara langsung.
Pengujian Iman

Di sinilah iman diuji. Apakah kita tetap percaya saat tidak merasakan apa-apa?
Apakah kita tetap setia saat doa belum dijawab? Apakah kita tetap melangkah saat arah di depan masih suram?
Iman bukan hanya tentang momen ketika kita merasa dekat dengan Tuhan. Iman justru dibentuk dalam momen ketika kita tidak merasakan apa-apa, tapi tetap memilih untuk percaya.
Seperti murid-murid yang akhirnya melanjutkan langkah mereka, kita pun dipanggil untuk tetap berjalan. Bukan karena semuanya jelas, tapi karena kita percaya pada Pribadi yang memimpin langkah kita.
Karena itu, pergumulan iman bukan selalu tanda seseorang kehilangan Tuhan. Terkadang justru di masa-masa penuh pertanyaan itulah iman sedang dibentuk menjadi lebih dewasa.
Penutup
Mungkin hari ini Anda merasa Tuhan jauh. Doa masih belum terjawab bahkan sudah lelah menunggu.
Tapi perasaan itu bukan bukti bahwa Tuhan tidak ada. Itu hanya bukti bahwa kita manusia yang terbatas dalam memahami cara kerja-Nya. Tuhan tidak selalu hadir dengan cara yang bisa kita rasakan. Tapi bukan berarti Dia tidak hadir.
Kadang, justru dalam diam itulah Dia sedang membentuk sesuatu yang lebih dalam. Yakni iman yang tidak bergantung pada perasaan, tapi pada kepercayaan.
Pertanyaan Diskusi
- Pernahkah Anda merasa Tuhan jauh dalam hidup? Apa yang biasanya Anda lakukan di momen itu?
- Ceritakan perasaan Anda ketika doa dan harapan Anda belum dijawab Tuhan.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.