
Dalam Matius 18:21–35, Yesus bercerita tentang seorang hamba yang diampuni dari utang yang sangat besar. Tapi ironisnya, ketika ada orang lain yang berutang kecil kepadanya dan minta waktu, ia justru menolak dan memasukkannya ke penjara.
Kisah ini terdengar sederhana, bahkan terasa jelas siapa yang salah dan benar. Tetapi mari merenungkan bahwa kisah ini bukan hanya tentang hamba itu, melainkan tentang kita.
Apakah kita sungguh memahami arti pengampunan itu? Atau sebenarnya kita cuma paham pengampunan, tapi belum benar-benar mau melakukannya?
Pengampunan vs Penghakiman
Dalam sebuah seminar, seorang pemateri mengajukan pertanyaan sederhana kepada para peserta. Di gereja, ketika pendeta berkhotbah, topik manakah yang lebih sering dibahas: Pengampunan atau penghakiman? Hampir semua peserta menjawab, pengampunan.
Lalu pertanyaan kedua diajukan: Dalam kehidupan nyata, mana yang lebih sering kita praktikkan: Pengampunan atau penghakiman? Ruangan mendadak hening. Setelah jeda singkat, terdengar jawaban lirih, “penghakiman.”
Di sinilah kita mulai sadar, mengetahui kebenaran tidak otomatis membuat kita hidup dalam kebenaran itu. Bahkan kita sering mengetahui kebenaran, tetapi gagal menghidupinya.
Mengampuni Hanya Bagi yang Layak

Filsuf Perancis, Jacques Derrida, melihat pengampunan sebagai sesuatu yang melampaui logika manusia. Ia berpandangan bahwa pengampunan sejati adalah ketika diberikan kepada mereka yang tidak layak diampuni.
Selanjutnya ia mengatakan ada pengampunan yang “tidak masuk akal”. Seperti: Saat seseorang memberikan pengampunan kepada orang yang tidak ada penyesalan, tidak minta maaf bahkan mungkin tidak berubah.
Jika ada orang yang memberikan pengampunan pada orang tersebut maka itu benar-benar tidak masuk akal. Dan lagi orang tersebut tidak akan layak menerima pengampunan dari kita.
Bukankah apa yang dianggap ‘tidak masuk akal’ oleh filsafat, justru menjadi inti Injil?
Memahami Arti Pengampunan.
Dunia sering memberi kita dua pilihan ekstrem saat seseorang menyakiti. Balas dendam agar adil, atau putus hubungan agar tenang. Tapi sebagai pengikut Kristus, kita terjebak di tengah-tengah sebuah perintah yang sulit, yaitu mengampuni.
Kita akan menemukan persoalan besar dalam perumpamaan tentang hamba yang jahat dalam Matius 18 tersebut. Persoalannya bukan hanya dia tidak mau mengampuni. Tapi dia lupa betapa besar hutang nyawanya yang sudah dihapuskan terlebih dulu.
Kita sulit mengampuni sesama bukan karena luka kita terlalu besar. Tetapi ingatan kita akan pengampunan Tuhan terlalu kecil.
Sesungguhnya pengampunan bukan untuk pihak lain tetapi untuk diri kita sendiri. Karena keputusan mau memberikan pengampunan bagi orang lain adalah tindakan yang Allah harapkan.
Pengampunan Allah sebagai Jalan Pemulihan

Dalam Roma 5:8 menuliskan ”Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Kristus tidak menunggu kita meminta maaf lalu mati bagi kita. Ia mengampuni saat kita masih menjadi musuh-Nya, ketika kita masih berdosa.
Kristus tidak hanya mengajarkan tentang pengampunan, tetapi juga mempraktekkan pengampunan yang sesungguhnya. Contoh konkret saat Yesus Kristus mengampuni Petrus yang telah menyangkal-Nya tiga kali.
Demikian juga ketika Yesus berada di atas kayu salib. Perkataan yang keluar dari mulut Yesus sungguh kata-kata yang sulit untuk dimengerti. Ia berkata kepada orang-orang yang menghina dan mengejeknya “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Kristus mengampuni bukan setelah pertobatan sempurna. Tapi pengampunan itulah yang membuka jalan pemulihan.
Pengampunan sebagai Keindahan Relasi
Pengampunan yang sesungguhnya adalah pengampunan tanpa memandang apa kesalahannya. Berapa banyak kesalahannya, dan siapa yang melakukannya.
Mengampuni tidak selalu langsung menghangatkan relasi, tapi selalu melegakan hati. Tanpa adanya pengampunan, maka relasi menjadi terganggu.
Penutup
Pengampunan bukan jalan yang mudah, tetapi itulah jalan yang Yesus pilih lebih dulu. Ia mengampuni saat kita masih berdosa, bukan setelah kita layak.
Ketika kita memilih mengampuni, kita sedang berjalan di jalan yang sama. Jalan yang mungkin menyakitkan, tetapi membawa pemulihan. Bukan hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi diri kita sendiri.
Pertanyaan reflektif
- Menurut Anda, apa faktor yang membuat seseorang sulit mengampuni?
- Menurut Anda, bagaimana pengampunan justru bisa menjadi jalan pemulihan bagi diri kita sendiri?
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.